Arsip untuk kategori ‘Kumpulan Tulisan Tentang Pembelajaran Qur'an Hadits’
Telaah Analitik Materi Hadits Tentang Kewajiban dan Metode Dakwah dalam Buku Ajar Qur’an Hadits Madrasah Aliyah
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut kamus oxford, buku diartikan sebagai: Book is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened together in a cover (buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit). Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.[1]
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.
Dalam menelaah (untuk kepentingan evaluasi dan pengembangan) materi pembelajaran hadits tentang perintah dan prinsip dakwah dalam buku ajar Qur’an Hadits Madrasah Aliyah kelas XII (berdasarkan kurikulum tahun 2006) terdapat sejumlah komponen yang sebenarnya perlu diamati. Komponen pengamatan (evaluasi) tersebut mencakup kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikaan.[2]
Komponen kelayakan isi mencakup, antara lain:
- Kesesuaian dengan SK, KD
- Kesesuaian dengan perkembangan anak
- Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar
- Kebenaran substansi materi pembelajaran
- Manfaat untuk penambahan wawasan
- Kesesuaian dengan nilai moral, dan nilai-nilai sosial
Komponen Kebahasaan antara lain mencakup:
- Keterbacaan
- Kejelasan informasi
- Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat)
Pemanfaatan Blog Sebagai Media dan Sumber Pembelajaran Alternatif Qur’an Hadits Tingkat Madrasah Aliyah
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
Tak bisa dipungkiri, dewasa ini media telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Di negara maju, media telah mempengaruhi hampir sepanjang waktu hidup seseorang. Bahkan seorang insinyur ternama Amerika Serikat, B. Fuller mengatakan bahwa media (terutama televisi) telah menjadi “orang tua ketiga” bagi anak (guru adalah orang tua kedua). Meskipun perkembangannya di Indonesia belum mencapai taraf seperti itu, namun kecenderungan ke arah itu sudah mulai tampak. Dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, peranan media juga tidak bisa diabaikan.[1]
Sebagai salah satu komponen pembelajaran, media tidak bisa luput dari pembahasan sistem pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru dalam setiap kegiatan pembelajaran. Namun kenyataanya bagian inilah yang masih sering terabaikan dengan berbagai alasan. Alasan yang sering muncul antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dll. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru telah membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan dalam hal media pembelajaran. Sesungguhnya betapa banyak jenis media yang bisa dipilih, dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai dengan kondisi waktu, biaya maupun tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Setiap jenis media memiliki karakteristik tertentu yang perlu kita pahami, sehingga kita dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di lapangan.
Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits (bagian 4)
Kelebihan dan Kekurangan Strategi Guided Note Taking
Selama ini tidak bisa disangkal lagi bahwa metode pembelajaran yang paling popular di Indonesia bahkan juga di seluruh dunia adalah metode ceramah atau yang sering disebut lecturing. Metode ceramah ini dapat menjadi metode yang efektif jika dipakai untuk pengajaran pada tingkatan yang rendah, yaitu pengetahuan dan pemahaman (kognitif) terutama pada kelas besar.
Berikut ini adalah keunggulan-keunggulan strategi guided note taking yaitu:
- Strategi ini cocok untuk kelas besar dan kecil.
- Strategi ini dapat digunakan sebelum, selama berlangsung, atau sesuai kegiatan pembelajaran.
- Strategi ini cukup berguna untuk materi pengantar.
- Strategi ini sangat cocok untuk materi-materi yang mengandung fakta-fakta, sila-sila, rukun-rukun atau prinsip-prinsip dan definisi-definisi.
- Strategi ini mudah digunakan ketika peserta didik harus mempelajari materi yang bersifat menguji pengetahuan kognitif.
- Strategi ini cocok untuk memulai pembelajaran sehingga peserta didik akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan yang berhubungan dengan mata pelajaran untuk kemudian dikembangkan menjadi konsep atau bagan pemikiran yang lebih ringkas.
- Strategi ini dapat digunakan beberapa kali untuk merangkum bab-bab yang berbeda.
- Strategi ini cocok untuk menggantikan ringkasan yang bersifat naratif atau tulisan naratif yang panjang.
- Strategi ini dapat dimanfaatkan untuk menilai kecenderungan seseorang terhadap suatu informasi tertentu
- Strategi ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangkan diri, fokus pada handout dan materi ceramah serta diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan menemukan (discovery) dan bekerja sendiri.
Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits (bagian 3)
Contoh Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits
Ada beberapa model yang digunakan dalam strategi ini. Yang paling sederhana di antaranya yaitu sebagai berikut:
- Memberi bahan ajar misalnya berupa handout kepada siswa
- Materi ajar disampaikan dengan metode ceramah.
- Mengosongi sebagian poin-poin yang penting sehingga terdapat bagian-bagian yang kosong dalam handout tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengosongkan istilah atau definisi atau bisa dengan cara menghilangkan beberapa kata kunci.
Contoh : Dalam Islam ada dua hal yang dijadikan sebagai sumber ajaran, yaitu……….…..dan…………… Sumber yang pertama diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal ……. Ramadhan yang sering diperingati sebagai hari ……………………..…. . Sumber kedua berupa ……….…. Nabi yang berupa perbuatan atau ……………….., perkataan atau ……………, dan ketetapan atau …..…..……
- Menjelaskan kepada siswa bahwa bagian yang kosong dalam handout tersebut memang sengaja dibuat agar mereka tetap berkonsentrasi mengikuti pembelajaran.
- Selama ceramah berlangsung siswa diminta untuk mengisi bagian-bagian yang kosong tersebut.
- Setelah penyampaian materi dengan metode ceramah selesai, guru meminta siswa untuk membacakan handoutnya.
Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits (bagian 2)
Relevansi Strategi Guided Note Taking dengan Pembelajaran Aktif
Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari instruction, yang banyak dipakai di dalam dunia pendidikan di AS. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif holistik, yang menempatkan sisiwa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan-bahan cetak, internet, televisi, gambar, audio, dan sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peran guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Hal ini seperti yang diungkapkan Gagne (1992:3), yang menyatakan bahwa “Instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated.” Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar merupakan bagian dari pembelajaran, dengan konsekuensi peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.[1]
Strategi guided note taking merupakan strategi yang menggunakan pendekatan pembelajaran akitf (active learning). Pembelajaran aktif (active learning) adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits (bagian 1)
Sudah menjadi pemandangan umum atau realita sehari-hari bahwa di dalam suatu ruang kelas ketika sesi Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa tidak mengikuti pembelajaran secara serius sewaktu guru mengajar. Beberapa siswa terlihat ngantuk dan sebagian lainnya malah ngobrol ketika guru sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Di sisi lain ada kelas yang nampak hening tanpa ada suara sama sekali bahkan terlihat tegang, rupanya saat itu sang guru sedang ceramah sambil marah-marah memegang penggaris kayu di depan kelas. Pemandangan semacam ini kerap dijumpai di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah yang masih berpegang pada keyakinan bahwa yang dinamakan aktifitas belajar mengajar ialah ketika guru masuk mengajar sesuai jam mengajarnya dan murid masuk kelas duduk manis di bangkunya masing-masing mengikuti pembelajaran, tanpa ada ikhtiar terprogram dan terencana untuk mengevaluasi kualitas proses pembelajaran yang berlangsung.
Padahal aktivitas proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan, dan guru sebagai salah satu pemegang utama di dalam menggerakkan kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. Tugas utama seseorang guru ialah mendidik, mengajar, membimbing dan melatih, oleh sebab itulah tanggung jawab keberhasilan pendidikan berada di pundak guru. Guru sebagai juru mudi dari sebuah kapal bertanggung jawab mengemudikan arah dan haluan kapal. Jika juru mudinya pandai dan terampil, maka kapal akan berlayar selamat sampai tujuan. Gelombang dan ombak sebesar apa pun akan dapat dilaluinya dengan tenang dan bertanggungjawab.
Guru dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya.
Tinjauan terhadap Buku Materi Ajar PAI Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas X dan XI Karangan DR. H. Moh. Matsna, MA., Terbitan Karya Toha Putra Semarang (bagian 2)
Adapun mengenai aspek kelayakan penyajian, yang terdiri atas :
- Kelengkapan penyajian yang terdiri atas bagian awal (sampul, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar/ilustrasi dan daftar lampiran); dimensi buku cukup proporsional dengan ukuran buku 18×26 cm, desain cover buku cukup bagus, font yang dipakai cukup proporsional dan standar begitupun dengan jenis kertas yang memakai kertas koran yang dipercaya menghemat ongkos produksi (yang berpengaruh pada harga buku di pasaran). Adapun pada bagian inti (judul bab, uraian bab, ringkasan bab, latihan/contoh soal untuk bahan evaluasi dan penyertaan gambar/foto sebagai ilustrasi) secara keseluruhan dinilai cukup baik, terutama konsistensi pengarang dalam memberikan rangkuman untuk setiap bab. Pada bagian latihan soal terdapat variasi jenis latihan antara pilihan ganda, mengisi titik-titik, menjawab pertanyaan essay dan tugas individu siswa dengan model penugasan yang bermacam-macam. Hanya saja sayangnya pada bagian akhir (indeks, glosarium, daftar pustaka dan lampiran) tidak terdapat indeks, glosarium atau lampiran tertentu, yang ada hanya daftar pustaka dan halaman kosong yang berguna sebagai catatan.
- Pendukung peyajian yang terdiri atas kata pengantar, pendahuluan, rujukan/sumber dan identitas pada setiap ilustrasi, daftar indeks (subjek), glosarium, daftar pustaka dan rangkuman, dinilai kurang memuaskan karena hanya menampilkan kata pengantar dari penyusun tanpa disertai petunjuk penggunaan buku, peta konsep atau hal-hal lain yang dapat memberikan pemahaman lebih terhadap isi buku. Rujukan/sumber dan identitas pada setiap ilustrasi pun hampir tidak ada penjelasan yang cukup berarti baik dari penyusun atau penerbit. Di identitas buku pada bagian awal pun tidak disebutkan soal ISBN atau sekedar pengantar dari pihak penerbit.
- Penyajian pembelajaran yang terdiri atas keruntutan materi, kekoherensian, konsistenasi, keseimbangan/proporsionalitas materi, dipandang sudah cukup baik dan cukup memadai setidaknya sebagai bahan ajar modal awal. Adapun persoalan apakah materi ajar yang terdapat pada buku tersebut sudah berpusat pada peserta didik, mendorong kemandirian dalam belajar dan mendorong keingintahuan siswa maka penulis belum dapat menyimpulkan secara pasti. Namun sepintas jika dilihat dari uraian materi dan bobot uraian yang disajikan agaknya kurang memenuhi ekspektasi tersebut. Buku ajar karangan Dr. H. Moh. Matsna, MA penulis nilai belum banyak ber’bicara’ secara komunikatif dan inspiratif terhadap siswa sehingga sulit rasanya menilai buku ini akan dapat menggugah rasa keingintahuan siswa jika hanya mengandalkan buku ini saja.
Tinjauan terhadap Buku Materi Ajar PAI Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas X dan XI Karangan DR. H. Moh. Matsna, MA., Terbitan Karya Toha Putra Semarang (bagian 1)
Hasil Tinjauan terhadap Buku Materi Ajar PAI Al-Qur’an Hadits
Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari Al-Qur’an-Hadis yang telah dipelajari oleh peserta didik di MTs/SMP. Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari, memperdalam serta memperkaya kajian al-Qur’an dan al-Hadis terutama menyangkut dasar-dasar keilmuannya sebagai persiapan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, serta memahami dan menerapkan tema-tema tentang manusia dan tanggung jawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam perspektif al-Qur’an dan al-Hadis sebagai persiapan untuk hidup bermasyarakat.
Secara substansial, mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis diharapkan memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an-hadis sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Buku bahan ajar meski bukan satu-satunya penentu keberhasilan mengajar namun berperan penting sebagai sumber belajar baik bagi guru terlebih lagi bagi siswa. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang mampu merangsang semangat guru dan siswa untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta mampu memberikan modal awal yang berguna sebagai fondasi berpikir dan pengembangan pengayaan pengetahuan melalui sumber-sumber belajar lainnya. Selain itu buku yang baik juga harus mempertimbangkan kemudahan bahasa, cakupan materi dan keragaman daya nalar kritis di masing-masing madrasah.
Ruang Lingkup Pembelajaran Qur’an Hadits Madrasah Aliyah
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pembelajaran Qur’an Hadits tingkat Madrasah Aliyah dan Ruang Lingkup nya
c. Kelas XI, Semester 1
| STANDAR KOMPETENSI | KOMPETENSI DASAR |
|
1.1. Mengartikan QS az-Zuhruf:9-13, QS al-’Ankabuut:17 dan hadis tentang syukur
1.2. Menjelaskan kandungan QS az-Zuhruf:9-13, QS al-’Ankabuut:17 dan hadis tentang syukur 1.3. Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan QS az-Zuhruf:9-13, QS al-’Ankabuut:17 dan hadis tentang syukur 1.4. Mengidentifikasikan macam- macam nikmat Allah sebagaimana terkandung dalam QS az-Zuhruf: 9-13 1.5. Melaksanakan cara-cara mensyukuri nikmat Allah seperti terkandung dalam QS al-’Ankabuut: 17, dan hadis tentang syukur nikmat |
|
2.1 Mengartikan QS ar-Ruum: 41-42, QS al-A’raaf: 56-58;QS Shad:27; QS al-Furqaan: 45-50 dan QS al-Baqarah: 204-206.
2.2 Menjelaskan kandungan QS ar-Ruum: 41-42, QSal-A’raaf: 56-58;QS Shad:27; QS al-Furqaan: 45-50 dan QS al-Baqarah: 204-206. 2.3 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan QS ar-Ruum: 41-42, QS al-A’raaf: 56-58;QS Shad:27.; QS al-Furqaan: 45-50 dan QS al-Baqarah: 204-206. 2.4 Menerapkan perilaku menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagaimana terkandung dalam QS ar-Ruum: 41-42, QS al-A’raaf: 56-58 dan QS Shad:27, QS al-Furqaan: 45-50 dan QS al-Baqarah: 204-206. |
Prinsip Evaluasi Materi Pembelajaran
Prinsip-Prinsip Evaluasi Materi Pembelajaran
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).[1]
- Relevansi artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”Menunjukkan pemahaman tentang cara-cara wahyu diturunkan” (Qur’an Hadits kelas X semester 1) maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”fakta-fakta seputar proses turunnya Al-Qur’an, ayat pertama yang diturunkan dan bukannya hikmah diturunkannya Al-Qur’an berangsur-angsur”.
- Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada tiga macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi tiga macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Memahami Pengertian Al-Qur’an dan Bukti Keotentikannya (Qur’an Hadits Kelas X semester 1) yang meliputi menjelaskan pengertian al-Qur’an menurut para ahli, membuktikan keotentikan al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan sejarahnya dan terakhir menunjukkan prilaku orang yang meyakini kebenaran al-Qur’an maka materi yang diajarkan juga harus meliputi ragam pendapat para ulama mufassir tentang pengertian Al-Qur’an, otentitas Al-Qur’an dari segi redaksi, kemukjizatan dan sejarahnya, juga materi tentang contoh perilaku orang yang menyakini kebenaran Al-Qur’an.
- Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).



